Panyabungan, Satu bulan pascabencana banjir bandang yang melanda tujuh desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, sampai saat ini sebagian masyarakat masih tinggal di tenda-tenda darurat bantuan pemerintah maupun pihak lain.
Hal ini dikatakan salah seorang korban banjir Lakek Nasution (56), warga Desa Lubuk Kapundung 1 kepada BATAKPOS, Jumat (9/10) di Gedung DPRD Madina Bukit Payaloting Perbangunan, Kecamatan Panyabungan. Desa Lubuk Kapundung 1 termasuk yang terparah kerusakannya.
“Masyarakat masih banyak yang di tenda-tenda bentuan dari pemerintah maupun pihak lain. Akibat rumah tempat tinggal tidak bisa lagi di tempati bahkan ada yang terbawa banjir bandang tersebut. Karena itu kita berharap kayu gelondongan/ bulat yang terbawa banjir bias dimanfaatkan untuk membangun tempat tinggal kita.” katanya.
Selain itu, warga juga berharap kepada pemerintah untuk segera membersihkan kayu gelodongan yang menimpa perumahan masyarakat karena kalau tidak secepatnya dibersihkan bias mengancam keselamatan masyarakat, apaligi musim penghujan sekarang ini.
“Kayu gelondongan selain tempat tinggal sisa bias dijadikan warga untuk kayu baker dan keperluan lainnya” jelasnya.
Menurut Lakek ketika bencana banjir bandang itu terjadi, dirinya hanya bias menyelamatkan keluarganya sendiri. Sedangkan harta benda tidak ada yang bisa terselamatkan.
“Saat ini masyarakat masih khawatir akan terjadi lagi longsor dari hulu sungai di Bukit Sidoar-doar karena ada batu yang sangat besar yang mengancam. Apaqbila terjadi longsor bukan tidak mungkin akan terjdi lagi banjir bandang. Hal itu juga sudah disamp-aikan Menhut saat meninjau lokasi yang menyatakan, sampai desember masyarakat harus ekstra hati-hati karena musim penghujan”katanya
|